Selasa, 03 April 2012

Asuhan Keperawatan Myastenia gravis


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam penyusunan makalah ini, terutama kami mengucapkan Terima Kasih.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih sangat banyak kekurangan baik dari segi materi, tata bahasa, maupun penyusunan. Dengan rendah hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang selanjutnya membangun untuk lebih menyempurnakan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Palembang,        Oktober  2011

                                                                                                                      
                                                                                                                   Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN................................................................................. 1
A.    Latar Belakang.......................................................................................... 1
B.     Tujuan Pembelajaran................................................................................. 2
BAB II : TINJAUAN TEORI.............................................................................. 3
A.    Konsep Dasar Medik................................................................................. 3
1.      Definsi................................................................................................. 3
2.      Etiologi................................................................................................ 3
3.      Patofisiologi........................................................................................ 4
4.      Manifestasi klinis................................................................................. 5
5.      Pemeriksaan diagnostik....................................................................... 5
6.      Penatalaksanaan medis........................................................................ 6
7.      Patoflow diagram teori........................................................................
B.     Konsep Dasar ASKEP.............................................................................. 7
1.      Pengkajian........................................................................................... 7
2.      Diagnosa keperawatan........................................................................ 8
3.      Rencana keperawatan.......................................................................... 8
BAB III : PENUTUP........................................................................................... 14
A.    Kesimpulan................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Miastenia gravis merupakan penyakit kelemahan otot yang dapat dijumpai pada anak, orang dewasa, dan pada orang tua.
            Sindrom klinis ini dikemukakan pertama kali pada tahun 1600. Pada akhir tahun 1800an miastenia gravis mulai dibedakan dari kelemahan otot akibat paralysis bulbar. Pada tahun 1920 seorang dokter yang menderita miastenia gravis merasa ada perbaikan sesudah ia meminum obat efedrin yang ditujukan untuk mengatasi kram menstruasi. Akhirnya pada tahun 1934 Mary Walker, seorang dokter dari Inggris melihat adanya gejala-gejala yang serupa antara miastenia gravis dan keracunan kurare. Mary Walker menggunakan antagonis kurare yaitu fisostigmin untuk mengobati miastenia gravis dan ternyata ada kemajuan-kemajuan yang nyata.
            Miastenia gravis banyak timbul antara umur 10-30 tahun. Pada umur dibawah 40 tahun miastenia gravis lebih banyak dijumpai pada wanita. Sementara itu diatas 40 tahun lebih banyak pada pria (Harsono, 1996). Insidens miastenia gravis di Amerika Serikat sering dinyatakan sebagai 1 dalam 10.000. Tetapi beberapa ahli menganggap angka ini terlalu rendah karena sesungguhnya banyak kasus yang tidak pernah terdiagnosis (Patofisiologi, 1995).
            Tingkat kematian pada waktu lampau dapat sampai 90%. Kematian biasanya disebabkan oleh insufisiensi pernafasan. Jumlah kematian telah berhasil dikurangi secara drastic sejak tersedia obat-obatan serta unit-unit perawatan pernapasan. Remisi spontan dapat terjadi pada 10% hingga 20% pasien dan dapat dicapai dengan melakukan timektomi elektif pada pasien-pasien tertentu. Yang paling cocok untuk menjalani cara ini adalah wanita muda yang masih dini keadaannya (5 tahun pertama setelah awitan) dan tidak berespon baik dengan pengobatan.

B.     Tujuan Pembelajaran
1.      Agar mahasiswa/i mamp memahami dan menjelaskan konsep dasar medik dari klien dengan gangguan sistem persarafan : myasthenia gravis.
2.      Agar mahasiswa/i mampu memahami dan melakukan proses keperawatan pada klien dengan gangguan sistem persarafan : myasthenia gravis.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Konsep Dasar Medik
1.    Definisi
Myastenia gravis merupakan gangguan yang mempengaruhi trasmisi neuromuskuler pada otot tubuh yang kerjanya dibawah kesadaran seseorang (volunteer) . Karakteristik yang muncul berupa kelemahan yang berlebihan dan umumnya terjadi kelelahan pada otot-otot volunter dan hal itu dipengaruhi oleh fungsi saraf cranial (Brunner
and Suddarth 2002).
Myasthenia gravis adalah gangguan neuromuskuler yang mempengaruhi transmisi impuls pada otot-otot volunter tubuh (Sandra M. Neffina 2002).
Myasthenia gravis merupakan kelemahan otot yang parah dan satu-satunya penyakit neuromuskular dengan gabungan antara cepatnya terjadi kelelahan otot-otot volunter dan lambatnya pemulihan (dapat memakan waktu 10-20 kali lebih lama dari normal) (Price dan Wilson, 1995).

2.      Etiologi
Kelainan primer pada Miastenia gravis dihubungkan dengan gangguan transmisi pada neuromuscular junction, yaitu penghubung antara unsur saraf dan unsur otot. Pada ujung akson motor neuron terdapat partikel -partikel globuler yang merupakan penimbunan asetilkolin (ACh). Jika rangsangan motorik tiba pada ujung akson, partikel globuler pecah dan ACh dibebaskan yang dapat memindahkan gaya sarafi yang kemudian bereaksi dengan ACh Reseptor (AChR) pada membran postsinaptik.
3
Reaksi ini membuka saluran ion pada membran serat otot dan menyebabkan masuknya kation, terutama Na, sehingga dengan demikian terjadilah kontraksi otot. Penyebab pasti gangguan transmisi neromuskuler pada Miastenia gravis tidak diketahui. Dulu dikatakan, pada Miastenia gravis terdapat kekurangan ACh atau kelebihan kolinesterase, tetapi menurut teori terakhir, faktor imunologik yang berperanan.
3.      Patofisiologi
Dalam kasus Myasthenia Gravis terjadi penurunan jumlah Acetyl Choline Receptor (AChR). Kondisi ini mengakibakan  Acetyl Choline(ACh)  yang tetap dilepaskan dalam jumlah normal tidak dapat mengantarkan potensial aksi menuju membran post-synaptic. Kekurangan reseptor dan kehadiran ACh yang tetap pada jumlah normal akan mengakibatkan penurunan jumlah serabut saraf yang diaktifkan oleh impuls tertentu. inilah yang kemudian menyebabkan rasa sakit pada pasien. 
Pengurangan jumlah AChR ini dipercaya disebabkan karena proses auto-immun di dalam tubuh yang memproduksi anti-AChR bodies, yang dapat memblok AChR dan merusak membran post-synaptic. Menurut Shah pada tahun 2006, anti-AChR bodies ditemukan pada 80%-90% pasien Myasthenia Gravis. Percobaan lainnya, yaitu penyuntikan mencit dengan Immunoglobulin G (IgG) dari pasien penderita Myasthenia Gravis dapat mengakibatkan gejala-gejala Myasthenic pada mencit tersebut, ini menujukkan bahwa faktor immunologis memainkan peranan penting dalam etiology penyakit ini.
Alasan mengapa pada penderita Myasthenia Gravis, tubuh menjadi kehilangan toleransi terhadap AChR sampai saat ini masih belum diketahui. Sampai saat ini, Myasthenia Gravis dianggap sebagai penyakit yang disebabkan oleh sel B, karena sel B lah yang memproduksi anti-AChR bodies. Namun, penemuan baru menunjukkan bahwa sel T yang diproduksi oleh Thymus, memiliki peranan penting pada patofisiologis penyakit Myasthenia Gravis. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya penderita Myasthenic mengalami hiperplasia thymic dan thymoma.
4.      Manifetasi Klinis
a.     Kelemahan otot ekstrim dan mudah mengalami kelelahan
b.    Diplobia (penglihatan ganda)
c.     Ptosis (jatuhnya kelopak mata)
d.    Disfonia (gangguan suara)
e.    Kelemahan diafragma dan otot-otot interkosal progressif     menyebabkan gawat napas.
5.      Pemeriksaan Diagnostik
a. Test serum anti bodi resptor ACh yang positif pada 90% pasien.
b. Test tensilon : injeksi iv memeperbaiki respon motorik sementara dan menurunkan gejala pada krisis miastenik untuk sementara waktu memperburuk gejala-gejala pada krisis kolinergik.
c. Test elektro fisiologis untuk menunjukan penurunan respon rangsangan saraf berulang.
d. CT dapat menunjukan hiperplasia timus yang dianggap menyebabkan respon autoimun.
6.      Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan diarahkan pada perbaikan fungsi melalui pemberian obat antikolinestrase dan mengurangi serta membuang antibodi yang bersikulasi
a.     Obat Anti Kolinestrase
piridostigmin bromide (mestinon), ambenonium klorida (Mytelase), neostigmin bromide (Prostigmin). diberikan untuk meningkatkan respon otot terhadap impuls saraf dan meningkatkan kekuatan otot, hasil diperkirakan dalam 1 jam setelah pemberian.
b.    Terapi Imunosupresif
ditujukan pada penurunan pembentukan antibody antireseptor atau pembuangan antibody secara langsung dengan pertukaran plasma.  kortikostreoid menekan respon imun, menurunkan jumlah antibody yang menghambat pertukaran plasma (plasmaferesis) menyebabkan reduksi sementara dalam titer antibodi. Thimektomi (pengangkatan kalenjer thymus dengan operasi) menyebabkan remisi subtansial, terutama pada pasien dengan tumor atau hiperlasia kalenjer timus. kalenjer timus. kalenjer timus. kalenjer timus. kalenjer timus.
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1.      Pengkajian
a)      Anamnesis
Identitas klien :
            Meliputi nama, alamat, umur, jenis kelamin, status
Keluhan utama :
            Kelemahan otot
Riwayat kesehatan :
            Diagnosa miasenia didasarkan pada riwayat dan pesentasi klinis. Riwayat kelemahan otot setelah aktivitas dan pemulihan kekuatan pasial setelah istirahat sangatlah menunukkan miastenia gravis, pasien mugkin mengeluh kelemahan setelah melakukan pekerjaan fisik yang sederhana . riwayat adanya jatuhnya kelopak mata pada pandangan atas dapat menjadi signifikan, juga bukti tentang kelemahan otot.
B1 (Breathing) :
            Dispnea, resiko terjadi aspirasi dan gagal pernafasan akut
B2 (Bleeding) :
            Hipotensi / hipertensi, takikardi / bradikardi
B3 (Brain) :
            Kelemahan otot ektraokular yang menyebabkan palsi ocular, jatuhnya kelopak mata atau dislopia intermien, bicara klien mungkin disatrik
B4 (Bladder) :
            Menurunkan fungsi kandung kemih, retensi urine, hilangnya sensasi saat berkemih.
B5 ( Bowel) :
            Kesulitan menelan-mengunyah, disfagia, kelemahan otot diafragma dan peristaltic usus turun.
B6 (Bone) :
            Gangguan aktifitas/ mobilitas fisik, kelemahan otot yang berlebihan.

2.      Diagnosa Keperawatan
a)      Ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan.
b)      Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan peningkatan produksi mukus dan penurunan kemampuan batuk efektif.
c)      Resiko tinggi aspirasi yang berhubungan dengan penutupan kontrol tersedak dan batuk efektif.
d)     Gangguan pemenuhan nutrisi yang berhubungan dengan ketidakmampuan menelan.
e)      Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kelemahan otot-otot volunter.
f)       Gangguan aktivitas hidup sehari-hari yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum, keletihan.
g)      Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan disfonia, gangguan pengucapan kata, gangguan neuromuskular, kehilangan kontrol tonus otot fasial atau oral.
h)      Gangguan citra diri yang berhubungan dengan adanya ptosis, ketidakmampuan komunikasi verbal.

3.      Rencana Keperawatan
DP I : Ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan
Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam setelah diberikan intervensi pola pernafasan klien kembali efektif
Kriteria Hasil : Irama, frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal, bunyi nafas terdengar jelas, respirator terpasang dengan optimal.
Intervensi :
1.      Kaji kemampuan ventilasi
R/ : Untuk klien dengan penurunan kapasitas ventilasi perawat mengkaji frekuensi pernafasan, kedalaman dan bunyi nafas, pantau hasil tes fungsi paru-paru (volume tidal, kapasitas vital, kekuatan inspirasi), dengan interval yang sering dalam mendeteksi masalah paru-paru, sebelum perubahan kadar gas darah arteri dan sebelum tampak gejala klinis.
2.      Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, laporkan setiap perubahan yang terjadi
R/ : dengan mengkaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi klien
3.      Baringkan klien dalam posisi yang nyaman dalam posisi duduk
R/ : penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal.

DP II : Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan peningkatan produksi mukus dan penurunan kemampuan batuk efektif
Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam setelah diberikan intervensi jalan nafas kembali efektif. Tujuan utama dari intervensi adalah menghilangkan kuantitas dari viskositas sputum untuk memperbaiki ventilasi paru-paru dan pertukaran gas.
Kriteria hasil : Dapat mendemonstrasikan batuk efektif, dapat menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi, tidak ada suara nafas tambahan dan pernafasan klien normal (16-20 x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu nafas.
Intervensi :
1.      Kaji warna, kekentalan dan jumlah sputum
R/ : Karakteristik sputum dapat menunjukkan berat ringannya obstruktif
2.      Atur posisi semifowler
R/ : Meningkatkan ekspansi dada
3.      Pertahankan asupan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak diindikasikan
R/ : Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan sekret dan mengefektifkan pembersihan jalan nafas. 

DP III : Gangguan aktivitas hidup sehari-hari yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum, keletihan.
Tujuan : Infeksi bronkhopulmonal dapat dikendalikan untuk menghilangkan edema inflamsi dan memungkinkan penyembuhan aksi siliaris normal, infeksi pernafasan minor yang tidak memberikan dampak pada individu yang memiliki paru-paru normal, dapat berbahaya bagi klien dengan PPOM.
Kriteria hasil : frekuensi nafas 16-20 x/menit, frekuensi nadi 70-90 x/menit dan kemampuan batuk efektif dapat optimal, tidak ada tanda peningkatan suhu tubuh.
Intervensi :
1.      Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktivitas
R/ : Menjadi data dasar dalam melakukan intervensi selanjutnya.
2.      Atur cara beraktivitas klien sesuai kemampuan
R/ : Sasaran klien adalah memperbaiki kekuatan dan daya tahan.
3.      Evaluasi kemampuan aktivitas motorik
R/ : Menilai tingkat keberhasilan dari terapi yang telah diberikan.

DP IV : Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan disfonia, gangguan pengucapan kata, gangguan neuromuskular, kehilangan kontrol tonus otot fasial atau oral.
Tujuan : klien dapat menunjukkan pengertian terhadap masalah komunikasi, mampu mengoperasikan perasaannya, mampu menggunakan bahasa isyarat.
Kriteria hasil : terciptanya suatu komunikasi di mana kebutuhan klien dapat dipenuhi, klien mampu merespons setiap berkomunikasi secara verbal maupun isyarat.
Intervensi :
1.      Kaji kemampuan komuniksai klien
R/ : Kelemahan otot-otot bicara pada klien krisis myasthenia gravis dapat berakibat pada komunikasi.
2.      Lakukan metode komunikasi yang ideal sesuai dengan kondisi klien
R/ : Teknik untuk meningkatkan komunikasi meliputi mendengarkan klien, mengulangi apa yang mereka coba komunikasikan denga jelas dan membuktikan yang diinformasikan, berbicara dengan klien terhadap kedipan mata mereka dan / atau goyangan jari-jari tangan atau jari-jari kaki untuk menjawab ya tau tidak.
3.      Beri penjelasan bahwa klien di ruang ini mengalami gangguan berbicara, sediakan bel khusus bila perlu
R/ : Untuk kenyamanan yang berhubungan dengan ketidakmampuan berkomunikasi.

DP V : Gangguan citra diri yang berhubungan dengan adanya ptosis, ketidakmampuan komunikasi verbal.
Tujuan : citra diri klien meningkat
Kriteria hasil : mampu menyatakan atau mengomunkasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi, mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi, mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang negatif.
Intervensi :
1.      Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungkan dengan derajat ketidalmampuan
R/ : Menentukan bantuan individual dalam menyususn rencana perawatan atau pemilihan intervensi.


2.      Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi pada klien
R/ : Beberapa klien dapat menerima dan mengatur perubahan fungsi secara efektif dengan sedikit penyesuaian diri, sedangkan yang lain mempunyai kesulitan membandingkan mengenal dan mengatur kekurangan.
3.      Catat ketika klien menyatakan terpengaruh seperti sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah kematian
R/ : mendukung penolakan terhadap bagan tubuh atau perasaan negatif terhadap gambaran tubuh dan kemampuan yang nerupakan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1. Miastenia gravis adalah suatu penyakit yang bermanifestasi sebagai kelemahan dan kelelahan otot yang bersifat progresif, dimulai dari otot mata dan berlanjut keseluruh tubuh hingga ke otot pernapasan.
2. Miastenia gravis disebabkan oleh kerusakan reseptor asetilkolin pada hubungan neuromuskular akibat penyakit otoimun.
3. Gejala utama miastenia gravis adalah kelemahan otot setelah mengeluarkan tenaga yang sembuh kembali setelah istirahat.
4. Diagnosis miastenia gravis ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit dan gambaran klinis, serta tes diagnostik yang terdiri atas: antibodi anti-reseptor asetilkolin, antibodi anti-otot skelet, tes tensilon, foto dada, tes wartenberg, dan tes prostigmin.
5. Pengobatan miastenia gravis adalah dengan menggunakan obat-obat antikolinesterase yang kerjanya menghancurkan asetilkolin.


DAFTAR PUSTAKA

De Belto, Dasto. 2010. ASKEP Myasthenis Gravis. http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/myasthenia-gravis.html. Diakses    tanggal 29 Oktober 2011
http://medlinux.blogspot.com/2009/02/miastenia-gravis.html. Miastenia Garvis.      Diakses tanggal 29 Oktober 2011
Muttaqin, Arif. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika
Qittun. 2008. Asuhan Keperawatan Dengan Miastenia Gravis.        http://qittun.blogspot.com/2008/05/asuhan-keperawatan-dengan-  miastenia.html. Diakses tanggal 29 Oktober 2011

   




















 











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar